Home –  Energi Bumi – Inilah yang Menjadi Sasaran dari Perbauran Energi Primer Nasional

Inilah yang Menjadi Sasaran dari Perbauran Energi Primer Nasional

Inilah yang Menjadi Sasaran dari Perbauran Energi Primer Nasional

Kebutuhan yang dimiliki akan sumber energi pengganti pada bahan bakar fosil ini benar-benar telah menyita perhatian banyak orang yang ada di dunia, beberapa diantaranya itu sekarang telah hadir dengan memiliki ide yang dapat dikatakan idenya itu sedikit gila, dari yang telah menempel di semua permukaan yang ada dengan solar sticker sampai bagaimana cara nya untuk memanfaatkan energi yang terbuang sia sia dari sebuah proses kremasi mayat, dan hal ini lah yang benar-benar terjadi. Semua itu berawal dari mulianya mengkonsumsi minyak bumi yang ada di bumi dan terus meningkat hal ini yang menyebabkan cadangan pada minyak yang ada di dunia semakin menipis saja. Bahkan ada beberapa para ahli mulai berpendapat, bahwa dengan pola yang dikonsumsi seperti sekarang ini, maka dalam kurun waktu sekitar 50 tahun lagi maka cadangan minyak yang ada di bumi dunia ini akan segera habis. Di Indonesia sendiri Kementerian ESDM sudah menyebutkan bahwa cadangan minyak bumi yang kita miliki sudah sangat sedikit, kira-kira tersisa 4 miliar barel dengan potensi yang dimiliki sekitar 9 miliar barel. Selain itu juga kesadaran yang dimiliki oleh masyarakat akan lingkungan yang sehat akan terus meningkat.

Proses pada pembakaran BBM akan menghasilkan gas CO2 yang memiliki peran yang besar dalam meningkatnya suhu yang ada di bumi dan akan mencairnya es yang ada di kutub. Kalian bisa bayangkan saja ada sekitar 3014 miliar ton CO2 yang dihasilkan di indonesia setiap tahunnya. Belum lagi pada gas sulfur oksida dan juga nitrogen oksida hal ini yang menyebabkan hujan asam yang berakibat pada matinya berbagai vegetasi yang ada di permukaan bumi. Walaupun pemerintah masih memprioritaskan batubara dan juga gas alam untuk sebagai pengganti minyak bumi, tetapi dalam rancangan yang ada di kebijakan energinya, dua energi pengganti ini akan terus dikurangi pada porsi penggunaannya. Karena itu kita semua berharap bahwa akan hadirnya sumber energi yang lebih murah dan juga yang ramah lingkungan yang ada di Indonesia. Hal ini sebagai gambaran, di negara Amerika ini sebagai pengguna energi yang terbesar yang ada di planet ini sudah mencanangkan di tahun 2030 ini sebagai tahun untuk kemandirian energi. Dalam sebuah rancangan untuk kemandirian energinya yang baru saja mereka sudah memasukan sinar matahari sebagai sumber energi yang baru, angin juga masuk kedalamnya, arus laut bahkan sampah radioaktif kini sebagai sumber energi yang baru.

Sasaran Bauran pada Energi Primer Nasional !

Potensi energi Indonesia

Suburnya sebuah Nusantara yang memiliki letaknya berada di khatulistiwa dan untuk pertemuan dua samudra, yang memiliki garis pantai dan ada banyaknya gunung berapi yang memberikan sebuah potensi yang tidak terbatas untuk dikembangkan energi yang baru, beberapa diantaranya itu adalah :

Biofuel 

Kalian tidak perlu tercengang jika pada tahun 2015 yang lalu negara Amerika ini sangat mampu mengubah sampah yang ada sekitar 160.000 ton sampah organik menjadi 100 juta galon untuk bahan bakar dengan harga kurang lebih berkisar mulai dari 70 sen/galonnya. Terus apa saja yang sudah dilakukan oleh negara Indonesia ? sebenarnya pada pengembangan biofuel yang berupa bioetanol dan juga biodiesel sudah mulai di gencar untuk  dilakukan oleh negara Indonesia ini sejak tahun 2006 yang lalu. Sebagai contoh yang ada pada PTPN X kini sudah memiliki pabrik bioetanol yang berbasis tetes tebu. Efisiensi pada produksinya untuk satu liter bioetanol, membutuhkan sekitar lima kilogram ampas. Dengan di harga sekitar Rp 1.000,-. Apabila per tahunnya itu ada sekitar 6 juta ton tebu yang akan digiling di sebelas pabrik gula, maka setidaknya akan tersedia sekitar 1,8 juta ton ampas tebu yang akan menjadi limbah yang akan dimanfaatkan juga. Dengan asumsi untuk digunakan sendiri lalu untuk operasional juga kira-kira sekitar 1,3 hingga 1,5 juta ton, maka akan ada 300.000 hingga 500.000 ton ampas tebu yang dapat dikonversikan untuk menjadi bioetanol. Pada potensi yang lain yang perlu dikembangkan juga adalah produksi cellulosic ethanol, etanol ini yang dibuat dari limbah pertanian, bisa pada limbah perkebunan dan limbah kehutanan sehingga hal ini tidak bersaing dengan produk pangan yang ada.

Produk biofuel yang lainnya adalah biodiesel yang sudah sesuai mandatory energi harus menjadi campuran yang ada di solar kira-kira sebesar 10%. Bahan baku yang dapat digunakan dari produk ini itu bisa saja berupa jarak pagar (Jatropha curcas), pada biji kubis (mustard), bisa juga dari kelapa, sawit (Crude Palm Oil/CPO) dan juga pada alga. Dari bahan baku tersebut tidak ada satupun yang tidak bisa hidup dengan baik di negara Indonesia. Satu yang sangat potensial adalah kelapa sawit, karena memiliki pemanfaatan kelapa sawit itu untuk energi ini tidak akan memiliki berkompetisi dengan kebutuhan pangan yang orang lain gunakan (minyak goreng) karena adanya produksi crude palm oil (CPO) pada saat ini sudah sangat berlebih, yaitu sekitar 25 juta ton pada per tahunnya. Jikapun persediaan yang dimiliki akan menurun maka akan menaikan pada permintaan yang hal ini mengakibatkan pada harga minyak sawit yang lebih baik lagi. Andai saja sekitar 0,5% atau sekitar 1 juta hektar saja dari wilayah yang ada di pulau-pulau yang besar tersebut yang dijadikan perkebunan untuk mengambil energi dengan cara menanam sawit misalnya, maka akan dapat diproduksi biodiesel sebesar kurang lebih sekitar 75.000 barrel pada per harinya. Dengan pemerintahan Indonesia ini memiliki kebun energi dapat menjamin sebuah kepastian sebagian dari ketersediaan dari energi sampai kapanpun dalam volume yang dapat kalian rencanakan lebih pasti lagi, hal ini sudah sesuai dengan kebutuhan yang masyarakat miliki. Selain itu juga, konsep pada kebun energi ini juga sangat bermanfaat sebagai instrumen untuk penyerapan tenaga kerja yang dibutuhkan, pemerataan pada pembangunan dan pertumbuhan pada ekonomi di daerah. Penggunaan sekitar 40% biodiesel pada per tahunnya pada bahan bakar pembangkit listrik yang ada, maka sudah terjadi penghematan tenaga sekitar 5,6 hingga 6 juta kilo liter barel pada per tahun (bph) minyak. Sehingga impor pada minyak akan bisa kurangi kira kira sebanyak 100 ribu barel per harinya (bph), dan hal ini bisa meminimalisir pengurangan yang ada devisa.

Mikrohidro 

Sesuai dengan pada misi pengelolaan energi yang nasional yaitu untuk menyediakan energi yang sangat terjangkau untuk para kaum dhuafa dan untuk daerah yang masih belum berkembang, maka salah satu yang paling mungkin saja adalah dengan mereka ini menyediakan Pembangkit Listrik menggunakan Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Sudah sejak tahun 2005 LIPI ini telah merintis pada pembangunan pembangkit listrik menggunakan tenaga mikrohidro (PLTMH) yang ada di Tanete, Desa Lebani, di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Energi listrik yang sudah dihasilkan ini kira kira sebesar 30 kilowatt dan sudah mampu memfasilitasi listrik hingga 24 jam lamanya dan hal ini dapat disalurkan ke kepada 100 keluarga yang ada di Sulawesi. Jika energi ini dikerjakan secara swakelola, dana yang akan dibutuhkan untuk membangun PLTMH ini sekitar Rp 30 juta per kilowatt. Investasi ini akan sangat mahal untuk ukuran desa yang terbilang cukup kecuali diterapkan yang ada pada kawasan yang terpadu atau yang menggandeng pihak swasta.